37 Puisi Guru – Ungkapan Indah Untuk Guru

Categories: puisi - On: Thursday, October 18th, 2018

ALFIYAH IBN MALIK
Oleh Mz. Moesthofa

Alfiyah itu, du amacamnya
satu ruh, lain badannya
yang satu, ditulis sendiri
yang lain, bersemayam di hati

takboleh hilang salah satunya
kalau ruh di tindas, Alfiyah hanya buku
kalau tidak ditulis dikertas, Alfiyah hanya hantu
masing-masing pada faham, tidak bisa bertemu

Alfiyah, selalu dua macamnya
satu terbuat dari kertas dan mangsi
lainnya tak terperi
karena sejati

Alfiyah buku
ada dimana-mana
Alfiyah sejati, takmenentu tempat tinggalnya
timbul tenggelam, antara ada dan tiada

GURU BUKAN PENGAJAR YANG BENAR
Oleh Muhammad Hafeedz Amar Riskha

Guru adalah pengajar yang mengajar
Bukan saling jajar, berbanjar dan kelakar
Guru adalah tulisan yang kita baca
Bukan tanda tangan ataupun coret-coretan

Guru laksana penerang jalan
Mangkal di perempatan sambil mabuk bir cap jabatan
Guru bagaikan mentari di pagi hari
Cahyanya menyinari membuat gerah setiap hari

Pahlwan tanpa tanda jasa, katanya
Pahlawan dengan tanda-tanda, faktanya

Lantangkan suara
Kibarkan bendera setengah tiang
Altar-altar pendidikan
Guru telah hilang
Guru telah sekarat
Pendidikan dekat wafat
Di brondong harta dan jabatan
Dengan tanda tangan

Mari kita berdoa untuk guru dan pendidikan
Semoga tenang di alam sana
Al-fatehah,..

NESTAPA KELAM
Oleh Deddy Andrianto

Ketika mentari sudah berpendar di tingkap pucuk menara
Kala desau mengusik, siap menggerayangi sekujur raga
Kabut masih belum selesaikan cengkrama
Memikat juntaian stratus semburat jingga

Dan kini,
Terik terasa membakar
Terasa pengap dalam celah sempit terkapar
Tak sempat menghirup waktu yang terkecap anyir
Seorang pemuda berjalan di atas duri nyeri teramat getir

Katanya…
Aku terdidik dalam larva kelam
Hari-hariku menghitung butir padi kala dinginnya malam
Diriku terbalut dalam lilitan kisah begitu membungkam
Roma keringat mewarnai ragaku sehitam legam

Kau apa ?

Anarkis !
Aku tertindas dihujam badai kelam
Rampas segala harta, segala benda
Duniawimu kau bawa berlari mengejar karam
Cekatan bak seorang nahkoda tega membodohi nasib pelaut ulung
Terlukis dalam ego memporak-porandakan kehormatan terancam
Punah ditelan emosi, surut terhanyut oleh amarah yang terpendam

Aku merintih dalam nestapa kelam