18 Cerita Fabel, Dongeng Anak Pendek Singkat Bergambar

Categories: cerita - On: Friday, January 18th, 2019

ufroog.com – Cerita Fabel, Cerita dongeng anak pendek. Fabel adalah sebuah jenis cerita dongeng yang berisi kisah hewan yang diceritakan seolah-olah bertingkah laku seperti manusia. Karakter cerita di dalam fabel semuanya binatang. Binatang ini diceritakan memiliki akal, tingkah laku, dan dapat berbicara seperti manusia. Selain itu, watak dan budi manusia juga digambarkan sedemikian rupa melalui tokoh binatang dalam fabel.

Tujuan cerita fabel adalah memberikan ajaran moral kepada anak dengan menunjukkan sifat-sifat jelek manusia melalui simbol binatang-binatang. Lewat fabel ini, penulis cerita ingin mempengaruhi pembaca agar dapat mencontoh perbuatan yang baik dan tidak mencontoh kelakuan yang tidak baik.

Kumpulan Cerita Fabel

Nah, bagi kamu yang sedang mencari bahan cerita fabel, silahkan melihat beberapa contoh berikut ini yang bisa menjadi bacaan menarik singkat dan mengandung pesan moral nasehat dan wejengan bijak untuk anak.

Persahabatan Singa Dan Tikus

cerita fabel Persahabatan Singa Dan Tikus

Di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor singa perkasa yang semua makhluk lain sangat takut kepadanya. Raja hutan tersebut dikenal sangat mengerikan, tidak mengenal rasa takut dan dia merasa harus dihormati oleh semua makhluk yang ada di hutan. Dia menghabiskan sebagian waktunya dengan berburu dan sebagian lagi untuk tidur. Tidak ada makhluk hidup yang ada di hutan berani mendekati sarangnya terutama saat singa sang raja hutan sedang tidur. Binatang perkasa itu sangatlah marah jika tidurnya terganggu dengan cara apapun.

Tapi suatu hari tikus kecil sangat penasaran ingin melihat bagaimana sarang Singa si Raja hutan. Dengan niat yang bulat dia berangkat ke gua dimana singa biasa beristirahat. Namun ketika dia sampai, dia tidak melihat adanya sang raja hutan.

“Dia pergi ke suatu tempat. Apakah dia akan segera kembali?” Timbul pertanyaan dalam hati si tikus kecil. Untuk mengobati rasa penasarannya si tikus kecil masuk menyelinap kedalam gua. Gua itu sangatlah gelap, ditanah dia melihat jejak kaki sang raja hutan, dan jejak kaki besar itu membuatnya sangat ketakutan.

“Sepertinya aku harus segera kembali.” Pikiri si tikus.

Namun malang, saat itu terdengar suara langkah kaki singa memasuki gua.

“Oh tidak dia akan segera masuk. Apa yang harus aku lakukan.” Si tikus gemetar.

Ternyata singa si raja hutan hanya pergi untuk minum di sungai, dan dia datang kembali untuk beristirahat.

Si tikus bersembunyi di dalam gelap gua dan melihat bayangan besar singa jatuh dilantai. . Singa duduk dekat pintu masuk gua dan beristirahat kepalanya di kaki yang besar. Segera ia tertidur pulas. Seluruh gua tampak bergetar dengan mendengkur keras raja hutan.

Si tikus berusaha merayap keluar secara diam-diam yang dia bisa. Segera ia berada di dekat pintu masuk. Tapi saat dia mencoba untuk menyeberangi singa, ekor kecilnya menyerempet kaki kiri dari Sang raja hutan, dan penguasa hutan terbangun dengan kaget. Terlihat kemarahannya saat dia melihat tikus kecil di sarangnya.

Walaupun takut si tikus tidak kehilangan akal, dia segera berlari. Namun malang singa segera dapat menangkapnya. Sang raja hutan membuka rahang untuk menelan tubuh si tikus kecil.

Si tikus kecil seketika berteriak.” Maaf, ya Raja, saya tidak bermaksud membangunkan anda, saya hanya mencoba untuk meninggalkan gua ini dimana selama ini saya sangat penasaran ingin melihatnya. Mohon biarkan saya pergi kali ini, dan saya tidak akan pernah lupa kebaikan Anda. Jika takdir memberi saya kesempatan, saya akan membantu Anda dengan cara yang saya bisa pada salah satu nanti. ”

Singa merasa geli mendengar ucapan si tikus. Bagaimana tikus kecil membantunya? Tapi dia membiarkan tikus kecil itu pergi dan tertawa terbahak-bahak. Si tikus berlari untuk menyelamatkan hidupnya, dia sangat berterima kasih kepada sang raja hutan yang tidak jadi memakannya.

Beberapa hari sejak kejadian itu, seperti biasa singa sang raja hutan pergi berkeliling. Pada suatu saat , tiba-tiba dia terjebak dalam jerat pemburu. Dia berjuang mati-matian untuk membebaskan diri. Namun semua usahanya tidak menunjukan hasil, dia hanya menemukan dirinya bahkan lebih terjerat kuat dalam jaring tali pemburu. Dia meraung dalam kemarahan dan ketidakberdayaan. Seluruh hutan mulai gemetar karena suara mengerikan dan setiap binatang mendengar teriakan sang raja hutan. Si tikus pun mendengarnya.

“Penguasa hutan dalam kesulitan.” pikir mouse. “Ini adalah kesempatan saya untuk bisa membantu dia sekarang”.

Berpikir demikian, si tikus berlari secepat yang dia bisa menuju tempat di mana suara itu berasal. Segera ia menemukan singa terperangkap dalam jerat pemburu.

“Jangan bergerak, Yang Mulia, saya akan memotong tali Anda dan Anda akan segera bebas” cicit si tikus. Tanpa membuang waktu, dia mulai menggigit tali dengan gigi kecilnya yang tajam. Segera singa itu terbebas.

“Saya tidak percaya menyangka bahwa bahkan Anda bisa membantu saya. Selama ini saya salah.” kata singa rendah hati. Dan akhirnya dua makhluk itu menjadi sahabat terbaik mulai hari itu.

Pesan Moral dari Cerita Fabel Kisah Persahabatan Singa dan Tikus adalah

  1. Jangan pernah menyepelekan orang lain, karena bisa jadi dia memiliki kemampuan yang tidak kita ketahui
  2. Kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan

Kisah Kerajaan Tikus dan Kucing

cerita fabel kerajaan tikus dan kucing

Dahulu di Pakistan terdapat sebuah rawa bernama Dawran. Rawa itu ratusan kilometer panjangnya. Di tengah rawa tersebut terdapat sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak hal menarik. Penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Di dalam kota itu ada seekor tikus bernama Mezra yang dinobatkan sebagai Raja Tikus di wilayah tersebut. Kekuasaan Mezra bahkan meluas hingga ke desa-desa dipinggir kota. Untuk membantunya dalam memimpin para tikus, dia dibantu oleh tiga orang penasehat yang cerdas dan pemberani.

Suatu hari para penasehat berkumpul dengan sang raja tikus untuk membicarakan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kerajaan mereka. Di tengah perbincangan, Mezra Raja Tikus berkata,” Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror kucaing? Kita sudah sangat lama di tindas oleh para kucing itu.”

“Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?”

“Saran saya.” Ujar penasehat pertama.” Adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita.”

Raja menoleh ke penasehat kedua dan berkata.” Bagaimana menurut kamu tentang sarannya itu.”

“Saya pikir itu sarang yang kurang baik.” Ujar penasehat kedua.” Siapa yang berani memasang lonceng di leher kucing meskipun kepada seekor anak kucing?”

“Menurut saya, kita harus mengungsi untuk sementara waktu ke desa. Ketika kota kosong, kucing akan mencari di kota lain yang banyak tikusnya. Sehingga ketika kucing sudah tidak ada di kota kita, kita dapat kembali dengan aman.” Lanjut penasehat kedua.

Mezra, sepertinya masih kurang puas dengan ide dari penasihat kedua. Dia lalu menoleh ke penasehat ketiga yang dikenal paling cerdas dan bijaksana.” Menurutmu bagaimana dengan saran tersebut.”

Penasehat ketiga menggeleng.” Saya tidak setuju. Jika kita meninggalkan kota dan tingal di desa, bagaimana bisa kita pastikan kucing-kucing itu akan menghilang, yang saya tahu sebagian besar kucing di kota ini menjadi peliharaan para pemiliknya. Andaipun mereka pergi ke kota lain, tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan kembali. Yang lebih penting adalah tentang keselamatan para tikus. Kehidupan di desa jauh lebih berat dibandingkan dengan di kota. Disana bukan hanya hidup para kucing liar tetapi banyak binatang liar lain yang juga memangsa bangsa kita, beberapa diantaranya ular dan burung elang.”

“Saya setuju dengan pendapatmu itu.” Ucap sang Raja.” Lalu apa menurutmu jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini.”

“Saya berpendapat satu rencana yang paling masuk akal dan dapat kita lakukan. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang kaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah.”

“Lalu kita masuk ke terowongan itu, tapi kita tidak akan menyentuh makanan manusia. Tugas kita hanya merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, orang kaya akan berpikir, ‘Wah satu kucing sepertinya tidak cukup untuk mangatasi banyak tikus disini.’ Dan dia pasti akan menambah satu lagi kucing peliharaan.” Ujar penasehat ketiga.

“Begitu kucing ditambah, kitapun menambah jumlah kerusakan. Dia pasti akan menambah satu kucing lagi, lalu kitapun menambah kerusakan hingga tiga kali lipatnya. Manusia yang cerdas tentu akan berpikir, ‘hei kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Kini ketika aku memiliki banyak kucing kerusakan dirumahku semakin bertambah parah.”

“Jika orang tersebut mengurangi jumlah kucingnya kitapun akan mengurangi jumlah kerusakan di rumah tersebut. Orang tersebut pasti berpikir, ‘aneh sekali’. Dia lalu akan menyingkirkan satu kucing lain. Kita mengikuti dengan mengurangi tingkat kerusakan. Dan akhirnya tentu saja dia akan menyingkirkan satu lagi kucing yang tersisa.”

“Saat itu merupakan waktu kita untuk mengherntikan merusak barang-barang orang kaya itu. Tentu para orang kaya akan berpikir. ‘Wah ternyata bukan tikus yang merusak rumahku, malainkan kucing.” Mereka tentu akan bercerita kepada orang lainnya. Karena mereka orang kaya tentu saja pengaruh mereka akan sangat besar untuk masyarakat di kota ini. Dan nantinya kucing akan diburu dan justru akan dimusnahkan.”

Raja Mezra pun mengikuti saran penasehat ketiga. Butuh waktu tidak terlalu lama hingga tidak ada satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.

Kini, jika itu terjadi, mereka pasti berkata.” Seekor kucing pasti telah menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam.” Dengan cara itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari rasa takut terhadap kucing.

Pesan yang bisa diambil dari Cerita Fabel Kisah Kerajaan Tikus dan Kucing adalah untuk mencapai sesuatu kadang kita harus melakukan hal yang tidak biasa.

Kisah Bebek Buruk Rupa

cerita fabel bebek buruk rupa

Hari yang indah di pedesaan. Padang rumput yang hijau dan rumput yang tinggi-tinggi. Di tepi rumput terlihat hutan yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi.

Ditengah hutan terdapat danau dengan air yang terlihat hijau-kebiruan. Ditempat yang sunyi-senyap diantara pepohonan, terlihat induk bebek yang sedang mengerami beberapa telur disarangnya. Induk bebek sudah merasa lelah dan berhharap telur-telurnya segera menetas.

Setelah berminggu-minggu mengeram, satu persatu telur mulai menetas “’Ciiit, ciit,” kata bayi bebek ketiaka ia mengeluarkan kepalanya dari dalam telur. Bayi bebek mencari jalan keluar dan mulai mencicit-cicit. Bayi bebek melihat-lihat alam di sekeliling sarang dan berkata,’’Betapa besarnya dunia!’’

Induk bebek sangat senang melihat anak-anaknya yang baru menetas. Ia mulai bangkit dari sarangnya dan menunjukkan betapa indahnya dunia. Namun, baru saja dia bangun dari sarangnya, ia melihat ada sebuah telur yang sangat besar di dalam sarangnya yang belum menetas. Ia mulai merasa takut, ‘’ Berapa lama lagi telur vesar ini akan menetas?’’ Induk bebek tidak meninggalkan sarangnya dan kembali mengerami telurnya agar tetap hangat, sehingga cepat menetas.

Akhirnya setelah beberapa minggu, telur besar itu mulai pecah. “Ciit,ciit,’’ kata bayi bebek terakhir. Ia mendorong dan berusaha keluar dari cangkang telurnya.

“Induk bebek melihat bayi bebeknya dan berkata,’’ Betapa besar dan jelaknya bayiku ini. Dia tidak seperti saudara-saudaranya.’’

Keesokkan harinya induk bebek membawa anak-anaknya ke danau. Ia menceburkan diri ke danau, kedalam air yang dingin dan jernih. Setelah itu ia memanggil anak-anaknya untuk bergabung dengannya, “Kwek, Kwek.’’ Satu persatu anak-anaknya menceburkan diri ke danau, menyelam, dan kembali mengambang di permukaan air. Kaki-kaki mereka mengayuh dan berenang menegelilingi danau di belakang induk mereka. Anak bebek yang besar dan jelek mengikuti barisan paling belakang. Induk bebek dan anak-anaknya berenang menuju daerah bebek, tempat beberapa keluarga bebek tinggal. Ketika melewatinya, mereka berkata,’’ Betapa harmonisnya keluargamu dan anak-anakmu sangat indah. Kecuali anakmu yang bertubuh besar itu sangat jelek.” Bebek-bebek itu mulai berkwek-kwek dengan sangat keras,” Betapa jeleknya bebek besar itu! Kami tidak bisa tinggal bersamanya.’’ Bebek-bebek yang lebih besar mulai terbang dan mematuk leher dan kepala anak bebek itu.

‘’Tinggalkan dia. Dia tidak menyakiti siapapun,’’ kata induk bebek. Namun tidak seekorpun yang mau mendengarkan dan mereka terus mematuki bebek besar dan jelek itu. Mereka terus menyebut dan mengatakan betapa jeleknya ia.

Setiap hari keadaannya menjadi lebih buruk bagi si bebek buruk rupa. Ia diburu oleh bebek jantan, dipatuki oleh bebek betina. Akhirnya, ia tidak kuat menghadapi perlakuan bebek tersebut. Ia tidak tahan mendengar ejekkan sebagai si bebek buruk rupa. Ia pergi dan bersembungyi di balik tanaman di tepi kolam. Di daerah rawa, ia bertemu dengan beberapa dari bebek liar. Mereka berkaa, ‘’ Mahluk apakan kamu? Kamu benar-benar besar dan jelek.’’

Setelah beberapa hari ia memutuskan untuk pindah ketempat lain. Saat itu musim dingin dan air danau menjadi sangat dingin. Bebek rupa berenang di danau dan memutuskkan kepalanya ke dalam air yang dingin. Langit tiba-tiba menjadi gelap dan angin dingin bertiup. Ia menjadi sangat lelah sehingga tidak dapat berenang lagi. Musim dingin hujan ini merupakan musim yang paling buruk bagi si bebek, karena ia harus berusaha bertahan hidup didaerah rawa-rawa.

Suatu hari matahari mulai memancarkan sinarnya dan udarapun menjadi lebih hangat dari pada kemarin burung-burung mulai bernyanyi. Rumput-rumput mulai menghijau. Sibebrk buruk rupa merasakkan kehangatan sinar matahari dan dan ia mendengar burung-burung bernyany. Ia memaksakan dirinya masuk ke dalam air danau yang hangat.

Sekawanan burung berbulu indah di atas rawa-rawa. Burung-burung tersebut sangat mempesona dengan leher yang panjang dan sayap yang lebar dan kuat. Dengan lemah gemulai mereka terbang dan mengelilingi danau dan dengan anggunnya mereka mendarat di danau. Si bebek buruk rupa melihat burung-burung yang indah itu dan mengagumi leher mereka yang panjang dan bulu putihnya yang seperti salju. Si bebek ingin berenang menghampiri mereka. Tetapi ia merasa takut. ‘’Saya sangat jelek. Tentu mereka tidak mau saya dekat mereka. Mereka akan mematuki saya dan menyebutkan saya jelek’’ Namun, entah bagaimana, ia ingin mendekati mereka. Sehingga ia berenang ke arah mereka.

Ketika sedang bereang, si bebek melihat ke air di bawahnya dan ia melihat banyangan dirinya. Ia melihat bayangan dirinya di air yang jernih. Ia bukan lagi si bebek buruk rupa. Ia menjadi angsa putih yang indah. Angsa yang indah yang besar berenang mengelilignya. Mereka membelai-belai lehernya. Mereka sangat senang melihatnya. Beberapa anak di taman melihat ke angsa. Mereka berteriak,’’ Ada angsa baru.’’ Mereka melemparkan remehan roti kearahnya dan berkata.” Angsa baru ini sangat indah, ia pun kuat dan tampan.’’

Si angsa menggerakkan sayapnya dan menjulurkan lehernya yang ramping dan berkata,” Saya tidak pernah bermimpi memdapatkan kebahagiaan ini ketika saya menjadi bebek buruk rupa.’’

Pesan moral dari Cerita Fabel Terbaru Kisah Bebek Buruk Rupa adalah

  1. Jangan pernah menghina dan menganggap rendah orang lain, karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
  2. Bisa jadi apa yang kita anggap jelek justru sangat baik untuk kita

Fabel Kura-kura Melawan Kelinci

cerita fabel kura kura melawan kelinci

Pada suatu hari ada seekor kelinci yang sangat sombong. Ia menyombongkan diri sebagai kelinci yang paling baik sedunia. Si kelinci selalu membanggakan betapa cepat larinya. Ia mempunyai kaki belakang yang sangat kuat untuk berlari seperti angin. Ia selalu memperlihatkan keahliannya berlari cepat kepada teman-temannya.

Pada suatu hari si kelinci membual di depan teman-temannya dan menunjukkan betapa cepat larinya. Ketika ia berlari, ia melompat di atas sebuah cangkang di jalanan. Perlahan-lahan sebuah kepala dan empat kaki keluar dari cangkang tersebut dan mulai bergerak di jalanan. Barulah si kelinci sadar, bahwa cangkang itu adalah kura-kura yang tampak merangkak perlahan-lahan dijalanan.

’’Betapa lambatnya kamu,’’kata kelinci kepada kura-kura. ‘’kamu sangat lambat. Saya tidak mengerti mengapa kamu tidak terganggu dengan gerakkan lambatmu.’’ Si kelinci tertawa mendengar leluconnya sendiri mengenai kura-kura.

Kura-kura menatap dingin pada kelinci dan berkata, ‘’Setiap hewan bergerak dengan langkahnya sendiri. Saya mungkin bergerak lambat, tetapi saya dapat pergi kemana saja yang saya mau. Pada kenyataannya, saya dapat mencapai tujuan lebih cepat dari pada kamu dan lebih kencang dari pada kamu.’’

Si kelinci berpikir, bahwa kata-kata si kura-kura sangat lucu. Ia tertawa mendengar, bahwa kura-kura berlari lebih kencang darinya. ‘’Tidak mungkin,’’ kata si kelinci. ‘’Bagaimana mungkin kamu lebih cepat dari saya? Saya dapat berlari secepat angin. Sementara kamu merangkak sangat lambat, sehingga sulit dikatakan, bahwa kamu bergerak lebih cepat dari saya. Saya mau lihat.’’

Si kelinci kemudian menantang si kura-kura untuk lomba lari, sehingga mereka akan lihat siapa yang lebih cepat. Lomba lari akan di adakan keesokkan harinya. Setiap hewan ingin melihat perlombaan lari antara si kelinci yang cepat dan si kura-kura yang lambat.

Serigala yang menghitung mundur saat mulai perlombaan. ‘’Lima, empat, tiga, dua, satu, lari…’’ Dengan satu loncatan, si kelinci dengan cepat hilang dari pandangan mata. Si kura-kura melangkahkan kakinya perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, sementara tatapan matanya terus bertuju pada jalan didepannya. Si kelinci berlari sepanjang jalan. Setiap kali melihat kerumunan penonton di pinggir jalan, ia membalikkan tubuhya dan melambaikan tangannya. Ia ingin mereka tau siapa yang paling cepat larinya. Jauh, jau dibelakangnya si kura-kura terus melangkah, selangkah demi selangkah, dengan lambatnya dan matanya yang terus menatap jalan di depannya. Tidak lama kemudian si kelinci tiba pada suatu tanda di jalan. Tanda itu menunjukkan, bahwa ia sudah berlari setengah jarak antara garis start dan finish. Ia pun tidak lagi melihat kura-kura.

Si kelinci berpikir, ‘’ Saya sudah jauh di depan dan si kura-kura sangat lambat, sehingga ia masih sangat jauh dibelakang. Perlu waktu lama bagi kura-kura untuk sampai di sini. Saya kira saya dapat berbaring dulu di sini dan beristirahat sebentar dibawah sinar matahari yang sangat hangat. Masih banyak waktu untuk memenangkan pertandingan ini saat saya bangun nanti.’’

Sementara itu, si kura-kura terus merangkak perlahan-lahan tanpa berhenti. Ia terus bergerak. Waktu terus berlalu, si kelinci masih tertidur dengan lelapnya. Dengan perlahan-lahan dan mantap, si kura-kura meneruskan langkahnya tanpa beristirahat. Ia bergerakperlahan-lahan sepanjang jalan. Akhirnya si kura-kura melewati si kelinci yang masih tertidur di tepi jalan. Si kelinci tertidur lelap, sehingga ia tidak mendengar saat si kura-kura melewatinya. Ketika kelinci terbangun dari tidur lelapnya, ia melihat kea rah belakang untuk mengetahui keberadaan si kura-kura. Namun ia tidak melihat kura-kura. Namun, ia tidak melihat kura-kura. Ia berkata , ‘’ Ternyata si kura-kura lebih lambat dari yang saya kira. Mungkin baru tengah malam ia tiba di garis finish.’’

Si kelinci merenggangkan kakinya dan kembalu ke jalan untuk melanjutkan perlombaan lari. Si kelinci berlari dan menaiki bukit. Kemudian ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Di garis finish tampak si kura-kura. Penonton bersuka ria, karena si kura-kura memutuskan pita garis finish. Si kura-kura di umumkan sebagai pemenang. Si kelinci menghela nafas panjang dan si kura-kura tersenyum. “ Bagaimana…kapan… di mana?’’ gumam si kelinci.

Si kura-kura berkata, ‘’ Saya menyusul kamu ketika kamu sedang tertidur. Saya mungkin saja lambat, tetapi mata saya menatap tujuan. Dengan pelan dan mantap, saya memenangkan perlombaan lari ini.’’

Pesan Moral dari cerita Fabel Kura-kura dan Kelinci adalah jangan pernah menganggap remeh orang lain. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kesombongan suatu saat pasti akan dikalahkan oleh kerendahan hati

Kambing, Beruang dan Harimau

cerita fabel kambing harimau dan beruang

Alkisah hiduplah seekor induk kambing pada zaman dahulu kala. Si Induk Kambing mempunyai seekor anak. Keduanya menjadi hewan peliharaan Raja Sudrajat.

Pada suatu hari raja Sudrajat berniat menikahkan putranya dengan putri dari negeri seberang. Karena terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, Raja Sudrajat lantas mengundang sanak saudara dan para kerabat untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada saat pertemuan dengan sanak saudara serta para kerabat, Raja Sudrajat mengutarakan niatnya akan menyembelih dua kambing peliharaanya untuk pesta pernikahan anaknya.

Anak kambing yang tengah berada dihalaman istana raja mendengar rencana sang raja untuk menyembelih dirinya dan induknya. Si anak kambing lantas membangunkan induknya yang tengah tidur. Katanya, “ ibu, aku mendengar rencana raja Sudrajat akan menyembelih kita pada pesta pernikahan putra sribaginda. Aku sangat takut bu. Apa yang harus kita lakukan.”

Induk kambing lalu mengajak anaknya melarikan diri.” Ayo kita pergi dari sini sekarang juga.”

Induk kambing dan anaknya pergi keluar istana dengan mengendap-endap. Kegelapan malam membantu pelarian mereka hingga sampai ke tepi hutan. Walaupun sesungguhnya mereka takut memasuki hutan, namun mereka tetap membulatkan tekadnya untuk bisa bersembunyi dari para pengawal istana.” Lebih baik kita bersembunyi di hutan daripada kita disembelih.” Kata induk kambing.

Induk kambing dan anaknya terus berjalan memasuki lebatnya hutan belantara. Keduanya berjalan tidak tentu arah karena yang paling penting untuk mereka adalah dapat menghindar sejauh mungkin dari kejaran Raja Sudrajat dan para pembantunya. Mereka terus berjalan hingga fajarpun muncul. Karena lelah mereka beristirahat terlebih dahulu.

“Ibu aku sangat lapar,” Ujar si Anak kambing.

Mereka mendapati ditempat mereka berisitirahat banyak sekali ditumbuhi rumput segar. Keduanya kemudian menyantap rumput itu dengan sangat lahap. Pada saat itulah mereka mendengar suara auman yang menggelegar.

Tubuh si induk kambing dan anaknya seketika gemetar. Mereka tahu itu adalah suara harimau si raja hutan. Mereka sangat ketakutan. Mereka merasa sia-sialah pelarian mereka ke hutan, karena mereka tahu harimau sangat suka sekali memangsa kawanan mereka.

Induk kambing dan anaknya segera bersembunyi dibalik pohon besar. Namun malang harimau si raja hutan tahu tempat persembunyian mereka. “Hei kambing sedang apa kalian.” Teriak si harimau.

Begitu takutnya induk kambing, hingga dia menjawab terbata-bata.” Kami sedang makan bawang.”

Pada saat yang sama tidak jauh dari tempat persembunyian si kambing lewatlah seekor beruang besar. Si beruang mendengar ucapan induk kambing, dan karena ucapan induk kambing terbata-bata, si beruang menyangka jika si induk kambing sedang memakan beruang. Si beruang yang selama hidupnya belum pernah melihat kambing, menjadi ketakutan. Dia segera memanjat pohon untuk menghindar menjadi mangsa si kambing.

Si harimau terheran-heran melihat si beruang memanjat pohon dengan tergesa-gesa,” Apa yang sedang kau lakukan wahai beruang sahabatku?”

“Ada kambing yang sedang memangsa beruang.” Jawab si beruang masih dengan ketakutan.

Harimau tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan si beruang.” Apa katamu? Ada kambing yang sedang memangsa beruang?”

“Ya.” Jawab si beruang

“Engkau salah mendengar wahai beruang. Kambing tidak makan beruang, tetapi dia sedang memakan bawang.”

Si beruang tidak begitu saja percaya dengan ucapan si harimau. Dia bahkan menyangka si harimau hendak menjerumuskannya sehingga dia bisa dimangsa oleh kambing. Dia berpikir harimau sedang berbohong padanya.

“Aku tidak berbohong turunlah.” Jawab si harimau.” Kambing tidak makan beruang, tetapi dia sedang memakan bawang.” Ucap si harimau mencoba kembali meyakinkan si beruang.

Si beruang tetap saja ketakutan.” Harimau, aku mau turun asalkan engkau bersedia mengawalku. Bahkan aku bersedia berkenalan dengan si kambing jika engkau bersedia mengawalku.”

“ Pengawalan macam apa yang engkau kehendaki wahai beruang?” tanya si harimau.

“Aku ingin ekor kita diikat satu sama lain. Dengan cara itu maka engkau telah menunjukan niat baikmu tidak menjerumuskanku untuk dimangsa kambing. Dan yang penting engkau tidak pergi meninggalkanku.”

Si harimau akhirnya setuju. Si beruang pun turun dan segera mengikatkan ekornya pada ekor harimau.

Semua percakapan harimau dan beruang didengar oleh induk dan anak kambing. Sebenarnya mereka sudah dari tadi ketakutan karena saat ini tengah berhadapan dua pemangsa yang ganas yaitu harimau dan beruang. Namun karena mereka menyadari jika beruang takut bertemu mereka, otak cerdik induk kambingpun muncul.

“Hai beruang bodoh, apakah kamu berpikir dengan bersama harimau kamu akan selamat. Justru aku akan segera mengoyak-oyak tubuh kalian berdua.” Teriak ibu kambing.

Teriakan Induk kambing sangat mengagetkan beruang. Saking takutnya dia segera berlari tunggang langgang menyeret harimau yang masih terikat padanya. Berkat kecerdikan nya, induk dan anak kambing selamat dari harimau dan beruang.

Pesan moral dari Dongeng Cerita Fabel Kambing, Beruang dan Harimau adalah Kecerdasan dan keberanian akan dapat mengalahkan kekuatan atau keperkasaan. Akal akan dapat mengalahkan otot. Oleh karena itu kita hendaklah tetap mengedepankan kecerdasan dan kecerdikan ketika dihadapkan situasi dan keadaan bagaimanapun juga. Termasuk kondisi yang berbahaya sekalipun.

Lomba Terbang Burung

cerita fabel lomba terbang burung

Pada suatu hari. Burung-burung berkumpul dan memutuskan mereka harus mempunyai raja. Singa adalah raja hewan yang berjalan di tanah, tetapi burung ingin mempunyai raja sendiri.

Kemudian burung pergi menemui singa dan memintanya untuk memanggil semua burung untuk mengadakan sebuah pertemuan.

Wakil semua burung berkumpul, dan memutuskan siapa yang akan menjadi raja. Singa menanyakan para burung bagaimana cara burung memilih siapa yang akan menjadi raja. Para burung berpikir dan berpikir, tetapi mereka tidak menemukkan cara yang tepat. Sebenarnya, Elang ingin mengusulkan, bahwa raja burung harus memiliki kemampuan terbang tinggi. Elang sadar bahwa dialah burung yang dapat terbang tinggi. Tetapi, ia tidak mau jika burung lain berpikir, bahwa dia sendiri yang ingin menjadi raja. Burung Beo berkata ‘’ Seharusnya yang menjadi raja adalah dirinya, karena, meskipun tubuhnya kecil tetapi ia sangat cerdik.’’

Burung Bulbul berkata “ Saya mengusulkan sebuah perlombaan bernyanyi, tetapi sayalah burung yang dapat bernyanyi dengan baik. Jika bernyanyi menjadi persyaratan, sayalah yang akan menjadi raja. Kita memerlukan sebuah cara yang adil untuk mengadakan perlombaan ini. Karena tuhan menganugrahkan kita sayap, maka saya mengusulkan, bahwa burung yang terbang paling tinggilah yang yang patut menjadi raja.’’

Mendengar usul ini, si Elang merasa sangat senang. Ia tau bahwa dirinyalah yang dapat terbang paling tinggi. Ia berkata ‘’ Ya, saya juga berpikir cara itu yang paling baik.’’

Burung Beo pun berkata, ‘’ Ya, saya pikir cara ini sangat baik. Siapapun yang terbang paling tinggi dia harus siap menjadi Raja.’’

Kemudian, dengan gerak cepat dan diam-diam, burung Beo terbang ke punggung burung Elang, tetapi Elang tidak menyadarinya. Burung Beo sangat ringan, sehingga burung Elang tidak tahu. Bahwa burung Beo tersebut berada di punggungnya. Burung Elang terbang tinggi dan tinggi sampai ke langit.

Ketika semua burung mandarat, mereka berkata ‘’ Karena burung Elang terbang paling tinggi. Maka burung Elanglah yang menjadi Raja kita.’’ Kemudian mereka melihat burung Beo berada di atas punggung burung Elang. Mereka pun berkata ‘’ Tidak, ternyata burung Beo terbang paling tinggi. Burung Beo, merupakan burung yang paling cerdik dan akhirnya mereka menobatkan burung Beo menjadi Raja burung.’’

Pesan Moral dari Cerita Fabel Terbaru Lomba Terbang Burung adalah bahwa kecerdikan dapat mengalahkan kekuatan. Jangan menganggap sepele orang lain yang kita anggap lemah, bisa jadi orang itu mempunyai kelebihan yang tidak kita miliki

Tupai dan Burung Nuri

cerita fabel tupai dan burung nuri

Sore dengan sinar mentari terbenam memberikan cahaya yang menguning tanda malam menjelang datang, saat itu adalah akhir dari musim hujan menjelang musim kemarau. Keluarga tupai terlihat sibuk lalu lalang memindahkan makanan berupa biji-bijian yang telah dikumpulkan oleh mereka selama musim hujan kedalam sarang yang telah mereka buat, saat itu pula datanglah seekor burung nuri dengan tampilan yang sangat cantik, berwarna merah serta melantunkan lagu-lagu yang merdu, namun burung nuri itu terlihat sangat kelelahan dan merasa sangat lapar.

Keluarga tupai itu terheran-heran dengan keadaan burung nuri tersebut, namun mereka mengacuhkannya karena mereka masih sibuk mengurusi makanan yang dibawa ke sarangnya. Burung nuri itu melihat dengan seksama apa yang dilakukan oleh keluarga tupai itu. Lalu burung nuri itu mulai mendekati salah satu dari mereka, dan dia bertanya “Apa yang sedang kalian lakukan wahai?” salah satu tupai itu menjawab “Apa kau tidak melihat, kami sedang sibuk mengumpulkan makanan untuk menghadapi musim kemarau yang sebentar lagi akan tiba!” Burung nuri itu kaget saat ini dia sama sekali tidak memiliki apa-apa untuk menghadapi musim kemarau nanti, sedangkan musim kemarau adalah musim sulitnya mendapatkan makanan.

Bahkan saat ini dia merasa sangat lapar, burung nuri itu meminta kepada keluarga tupai untuk membagi makanan dengannya. Permintaan burung nuri itu membuat keluarga tupai itu gusar.

“Bolehkah kau membagi makan denganku?” pinta burung nuri, “Apa?!”, Tanya tupai kepada burung nuri, dengan nada marah, “Kenapa kamu meminta kami untuk berbagi makanan dengan kamu, lalu selama musim hujan ini apa yang kau lakukan?” Tanya tupai kepada burung nuri.

“Ah, selama ini aku sama sekali tidak berpikir untuk mengumpulkan makanan seperti kalian,” jawab burung nuri, “Aku sibuk sekali dengan berlatih bernyanyi, dan ternyata musim hujan akan segera berganti dengan musim kemarau.” keluh burung nuri.

Para tupai merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh burung nuri itu, salah satu tupai melompat mendekati burung nuri itu, lalu berkata. “Apa, berlatih bernyanyi katamu? Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan, kau membuang waktumu itu dengan hal yang sia-sia. Mengapa tak kau sempatkan sedikit waktumu untuk mengumpulkan makanan seperti kami? Baiklah sekarang kau selesai dengan latihan bernyanyimu itu, sekarang saatnya kau berlatih menari!”.

Kemudian tupai itu meninggalkan burung nuri tersebut, tupai itu segera melanjutkan tugasnya membawa makanan ke sarang mereka. Burung nuri itu hanya terdiam meratapi kesalahannya, dia menyesal telah membuang waktunya dengan sia-sia sehingga mengakibatkan hal yang tidak baik padanya. Lalu di saat itu pula burung nuri dengan tergesa-gesa mencari makanan untuk dia kumpulkan, namun dia terlambat karena hari sudah menjelang malam. Dan walaupun burung nuri itu mengumpulkan makanan, makanan itu tidak cukup untuk menghadapi musim kemarau.

Pesan Moral dari Dongeng cerita Fabel : Tupai dan Burung Nuri adalah Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk hal yang berguna. Jangan karena ingin dipuji kamu melakukan hal yang tidak bermanfaat.

Cerita Fabel Gong Ajaib

Di tengah hutan, terdapat sebuah pohon rindang. Daunnya subur, cabang-cabang dan rantingnya sangat banyak. Di pohon itu banyak sekali tawon hutan yang bergerombol membuat rumah. Di hari ke hari semakin bertambah jumlah tawon-tawon tersebut, ketika tawon-tawon itu bergerombol di sarangnya, kelihatan seperti sebuah benda hitam yang sedang bergantung di ranting pohon.

Ketika matahari sangat menyengat. Si Kancil berlari-lari kecil menuju pohon rindang itu. Ia ingin berteduh sambil melepaskan lelah. Saat melihat ke atas, tiba-tiba matanya yang tajam melihat ada benda yang tergantung diranting pohon tepat di atas kepalanya. Cukup lama dia diam sambil mengawasi benda hitam tersebut, hingga akhirnya ketika ada beberpa tawon yang berterbangan dan hinggap pada benda itu, ia baru mengetahui bahwa benda yang bergantung itu tidak lain adalah tawon yang sedang bergerombolam.

Yakin benda itu adalah sarang tawon yang cukup besar dalam hatinya ingin sekali menikmati madu yang ada di dalamnya. ‘’Tapi bagaimana cara mendapatkan madunya? Cukup lama si Kancil berpikir untuk menemukan cara yang di anggapnya paling tepat untuk mengambil madu. Pada saat yang sama tiba-tiba datang Harimau. Air liur Harimau keluar dari sela-sela giginya yang tajam begitu melihat si Kancil yang kecil dan mulus.

‘’Hem, pastilah dagingmu sangat lezat untuk makan siangku Kancil.’’gumam Harimau. Kancil gemetar ketakutan, namun hewan cerdik itu menyembunyikan rasa takutnya.

‘’Oh, kamu Harimau!’’ sahut si Kancil. ‘’Sepertinya kamu kelaparan siang ini.’’

‘’Benar Cil ! Dan relakah dirimu untuk kumakan.’’

‘’Berarti kau akan membunuhku?’’

‘’Itu sudah jelas!’’

‘’Tapi tunggu dulu…kau harus dengar kata-kataku.’’

‘’Apalagi Cil? Aku ini sudah sangat lapar. Dari pagi belum makan sama sekali.”

‘’Aku disini sedang menjalankan tugas!’’ kata si Kancil setelah diam beberapa detik mencari alasan untuk menyelamatkan diri.’’

‘’Tugas apa itu Cil?’’ Tanya Harmau penasaran.

‘’ Ini aku disuruh oleh Nabi Sulaiman untuk menjaga gongnya.’’

‘’Apa? Kamu disuruh menjaga menjaga gongnya Nabi Sulaiman? Dimana gong itu?

‘’Itu..!’’ jawab si Kancil sambil menunjuk benda yang bergantung di ranting pohon. ‘’Gongnya itu milik Nabi Sulaiman. Sedangkan beliau sedang pergi!’’

‘’Apakah kamu sudah pernah mendengarkan bunyi gong itu Cil?’’ Tanya Harimau.

‘’Oh… tentu kawan!’’ jawab Kanci. “Bunyinya sangat merdu sekali.’’

‘’Coba kamu pukul Cil! Aku ingin mendengarnya, ‘’pinta Harimau.

‘’Oh jangan..jangan…! Sekali-sekali jangan di pukul, nanti aku mendapatkan marah dari baginda Nabi Sulaiman. Aku tidak mau di hukum karena melanggar perintah..’’

‘’Cuma sekali saja Cil. Masa kamu tidak mau! desak Harimau

‘’Tidak.. aku tidak mau!’’ jawab si kancil menolak.

‘’Kalau begitu aku sendiri yang akan memukulnya.’’ Pinta Harimau

‘’Kamu juga tidak boleh tanpa ijin Nabi Sulaiman.’’

‘’Kamu jangan macam-macam Cil! Kalo kamu tidak membiarkan aku memukul gong itu. Maka sekarang juga kau aku terkam.’’

‘’Jangan dong.’’

‘’Jadi biarkan aku memukulnya.’’

‘’Wah gawat!’’

‘’Gawat gimana? Apa maksudnya?’’

Kancil berkata lirih,’’ Sebenarnya gong ini bukan hanya bersuara merdu. Tapi siapa yang memukulnya dan mendengar suaranya akan ditakuti semua binatang lain. Artinya dia akan menjadi raja di hutan ini.’’

Mendengar keterangan itu Harimau makin penasaran. Ia mendengus dan siap menerkam si kancill. Kacil ketakutan. Harimau tidak main-main. ‘’Baiklah kalau kamu tetap memaksa kawan! Tapi tunggu dulu! Karena aku tidak mau kena hukuman Nabi Sulaiman, maka aku harus pergi dulu. Baru setelah aku pergi jauh kamu boleh memukul gong itu.’’

‘’Aku setuju Cil!’’ jawab Harimau. ‘’Kalau begitu cepatlah kamu tinggalkan tempat ini.’’

‘’Selamat tinggal kawan! Semoga kamu bisa menikmati suara merdunya suara gong itu,’’ kata si Kancil.

Setelah mengira si Kancil pergi cukup jauh. Harimau pun kemudian mengambil ranting kayu kering yang bergeletak di tanah, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera mendekati benda hitam itu tanpa mengamat-amati terlebih dahulu dan langsung mengayunkan ranting tersebut. ‘’Bukk..Buk…! Dua kali Harimau memukulnya dengan keras. Saat itulah gong yang dipukulnya bukan gong, tetapi rumah tawon. Tawon yang bergerombol itu langsung mendengung marah.

Harimau terkejut bukan main. Ia baru menyadari yang dipukulnya itu bukan gong, tetapi rumah tawon. Tawon-tawon itu dengan ganas menyerbu Harimau.

“ Kancil keparat kau sudah menipuku!’’ teriak Harimau kesakitan karena disengat puluhan Tawon.

Harimau langsung lari meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin disengat lebih banyak lagi 0leh tawon-tawon hutan yang sangat ganas tersebut.

Si Kancil yang bersembunyi di balik semak-semak hanya tertawa kecil melihat apa yang telah dialami Harimau. Dia sangat senang karena keinginannya untuk mendapatkan madu tawon, sebentar lagi akan terwujudkan. Sebab setelah rumah tawon tersebut di pukul oleh Harimau, banyak sekali madunya yang berceceran di tanah. Sesaat setelah tawon-tawon itu tenang kembali, mulailah si Kancil mendekati tempat itu dan memakan madunya yang sangat lezat.

Sedang asyik-asyiknya menyantap madu. Tanpa di sadari oleh si Kancil, ada seekor tawon yang hinggap di hidungnya dan menyengatnya.’’ Aduh…!’’ teriak si Kancil sambil melompat-lompat kesakitan.

Si Kancil merasakan kesakitan yang luar biasa. Sambil menahan sakit. Ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

Pesan Moral dari Cerita Fabel Nusantara Gong Ajaib adalah dalam setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Hendaknya kita terus berusaha dan berpikir jernih walaupun kondisi sangat tidak mendukung

Kisah si Kancil Mencuri Mentimun

Pagi yang sangat cerah. Matahari bersinar dengan indah. Pak Tani bersiap-siap pergi ke ladang dengan sangat gembira dengan memanggul pacul.

‘’Aku akan pergi ke ladang untuk memeriksa kebun timunku, mungkin saja besok sudah bisa dipanen.’’

Sesampainya di kebun timun Pak Tani sangat terkejut. Buah timun di kebunnya banyak yang rusak.

‘’Aduh siapa yang berani merusak buah timunku ini. Mengapa harus dirusak? Aku bukan petani yang pelit, jika ada orang yang mau timunku ambil saja. Tapi tidak untuk dirusak’’

Dengan hati muram Pak Tani pulang ke rumah. Ia menduga-duga hewan apakah yang suka makan mentimun.

‘’Pasti hewan yang merusak dan mencuri kebun mentimun ku adalah si Kancil’’. Gumam Pak Tani.

Pak Tani mencari akal untuk menjebak si Kancil. Pak Tani akhirnya berhasil mencari akal untuk menjebak si Kancil dengan membuat orang-orangan yang di beri pelekat sangat kuat. Menjelang sore orang-orangan itu sudah selesai dibuat dan di bawa ketengah kebun timun untuk di pasang.

‘’ Aku tahu kancil hewan yang sangat cerdik, dia bisa melakukan apa saja untuk mencuri timunku’’.

Ternyata dugaan Pak Petani benar, malam harinya Kancil datang untuk mengambil mentimun. Kancil tertawa melihat orang-orangan yang di buat Pak Tani.

‘’Haha.. hanya orang-orangan, siapa takut?’’

Kancil hanya melewati orang-orangan itu. Ia memakan timun yang muda-muda. Ternyata tak banyak yang di makan si Kancil. Hanya 3 buah timun ia sudah merasa kenyang. Ia juga tidak merusak timun yang lainnya.

Setelah makan timun. Kancil menghampiri orang-orangan yang dibuat Pak Tani, dan sifat jail si Kancil. Ia pukul orang-orangan itu dengan kaki depannya.

‘’Aduh… kenapa melekat seperti ini? Kaki ku tidak dapat di gerakkan!’’ Kancil sangat kaget.!

‘’Hei orang-orangan jelek. Lepaskan kakiku. Kalau tidak, akan kupukul lagi kau!’’

Kancil memukul orang-orangan itu dengan kaki yang satu lagi.

‘’Plak!’’ kini kedua kakinya menempel erat pada baju orang-orangan itu.

Pelekat yang di pasang Pak Petani di baju orang-orangan itu sangat kuat. Kancil tak bisa melepaskan diri. Sekuat tenaga ia berusaha tetapi tidak berhasil. Semalaman Kancil menangis.

Pagi harinya Pak Tani datang.

‘’Ku tangkap kau Kancil. Dasar biang kerok. Kau boleh mengambil makan timunku Cil. Tapi tidak untuk merusak buah yang lain.’’

‘’Ampun Pak Tani. Bukan aku yang merusak timunmu, aku hanya makan 2-3 buah timun. Dan perutku sudah merasa sangat kenyang.

Pak Tani tidak percaya dengan perkataan si Kancil. Leher si Kancil di ikat dan di seret Pak Tani ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Pak Tani, Kancil langsung diletakkan di dalam kurungan ayam.

‘’Kancil . Batu ini sangat kuat. Kau tak dapat meloloskan diri dari sini. Aku akan pergi sebentar ke pasar untuk membeli bumbu sate.’’

‘’Ampunilah aku Pak Tani, jangan sate aku. Dagingku pahit dan tidak enak.” Si Kancil merengek meminta ampun.

Pada saat Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli bumbu sate, ada seekor anjing yang merupakan peliharaan Pak Tani datang menghampiri kurungan si Kancil. Anjing hitam itu bernama Ireng.

‘’Kenapa kau di kurung?’’ Tanya si Ireng.

‘’Apa kau tak tau Reng?’’ Kancil membalas pertanyaan Si Ireng Anjing milik Pak Tani.

‘’Katakan ada apa sebenernya Cil?’’

‘’Begini Reng, aku ini akan di jadikan menantu oleh Pak Tani. Mangkannya Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli makanan yang lezat-lezat untukku calon menantunya.’’

‘’Hah..? Kamu itu tidak pantas Cil, badan mu kecil. Lebih baik aku saja yang menjadi menantu Pak Tani. Aku sudah bertahun-tahun menjadi peliharaannya’’

‘’Tapi Pak Tani sudah memilih aku Reng. Sudah sana pergilah kau Ireng!’’

Si Ireng tiba-tiba menggerang marah, ‘’Cil, kalau kau tidak mau aku gantikan sekarang juga batu yang ada di atas kurangan itu akan aku dorong dan lehermu akan ku gigit sampai putus.’’

‘’Wah.. Jangan gitu dong !’’

‘’Mau apa tidak?’’

‘’Baik-baik aku turuti keinginanmu.’’

Si Ireng mendorong batu hingga terjatuh, kurungan itu terbuka dan Kancil keluar dari kurungannya. Sedangkan Ireng menggantikkan Kancil masuk ke dalam kurungan.

‘’Selamat Ireng, sebentar lagi kau akan menjadi menantu Pak Tani.’’ Kata Kancil sambil berlari kencang.

Sesaat kemudian Pak Tani datang. Ia sangat kaget melihat Kancil yang berada di kurungan berubah menjadi Ireng anjing peliharannya.

‘’Hormat saya calon mertua.’’ Kata anjing dengan gembira.

‘Calon Mertua katamu? Hey kamu kemanakan si Kancil.’’ Pak Tani bertanya dengan nada gusar.

‘’Sudah pergi ke hutan Pak Tani !’’

‘’Kau sungguh-sungguh mau menjadi menantuku?’’

‘’Benar sekali tuan.’’ jawab Si Ireng dengan gembira.

‘’Sekarang keluarlah dari kurungan itu, lau duduklah yang manis dan pejamkan mata. Aku akan segera memanggil putriku didalam rumah.’’

Ireng segera menuruti permintaan dari Pak Tani. Dia sangat gembira karena akhirnya dia bisa menjadi keluarga dari Pak Tani.

‘’Ini hadiah untukmu !’’ teriak Pak Tani memukul kepala dan punggung si Anjing.

‘’Tungguuuuuu…! Bleg ! bleg !. ampuuuunnn..!’’

Si Ireng menjerit dan melarikkan diri. Dia baru sadar bahwa telah terjebak dalam tipu muslihat si Kancil. Ia sangat marah karena ditipu si Kancil. ‘’ Awas kau Kancil jika nanti ketemu akan ku gigit kau!’’ Ireng yang sangat marah karena di tipu si Kancil. Seluruh badannya masih terasa sakit setelah di pukul Pak Tani. Anjing berlari sangat kencang mengejar si Kancil.

Kancil sudah mencoba berlari sekencang yang dia bisa. Namun kecepatan si Kancil memang belum bisa dibandingkan dengan Ireng yang merupakan anjing pemburu, maka dalam beberapa saat Si Ireng sudah bisa berada di belakang.

‘’Wah gawat. Ireng sudah berada dibelakangku,’’ kata Kancil dalam hati. ’’Aku harus segera bersembunyi.’’

Pesan Moral dari Fabel cerita rakyat Kisah si Kancil Mencuri Mentimun adalah :

Janganlah kita melakukan kejahatan seperti mencuri karena sepandai-pandainya kita menyembunyikan kejahatan pasti suatu saat akan ketahuan juga.

Sebelum bertindak berpikirlah yang matang, jangan sampai menyesal dikemudian hari seperti si Ireng anjing milik Pak Tani.

Kancil Menipu Buaya

‘’Hai kau Kancil kurang ajar, tunggu aku. Akan aku gigit kau!’’

‘’Lah? Ko marah, bukannya kau sendiri yang ingin menggantikan ku menjadi menantu Pak Tani?’’ jawab si Kancil sambil berlari kencang.

‘’Tapi kau menipuku !’’

‘’Salahmu sendiri ko mau.’’

‘’Awas kau. Jika ku tangkap akan ku hajar !’’

‘’Hahaaa.. ! Tak mungkin bisa kau menangkapku !’’

‘’Dasar penipu. Kau bilang akan dijadikan menantu oleh Pak Tani, ternyata Pak Tani akan menyembelihmu dan dijadikan sate.’’

Kancil memang bertubuh kecil tetapi otaknya sangat cerdas. Jika kancil terus berlari pasti si Ireng Anjing peliharaan Pak Tani bisa mengejarnya. Lalu Kancil bersembunyi di balik rumput yang belukar. Si Ireng terus mengejarnya dan ia tidak tahu bahwa si Kancil bersembunyi.

‘’Hahaaa.. dasar Anjing bodoh !’’

Cukup lama Kancil bersembunyi. Setelah ia merasa aman. Kancil keluar dari persembunyiannya.

‘’Kukira Anjing itu sudah berlari sangat jauh !’’

Kancil berjalan ke arah yang berbeda dengan Anjing. Hingga Kancil tiba di tepi sungai.

‘’Waahh. Bagaimana cara menyebrangnya. Sepertinya sungai ni sangat dalam.’’

Kancil mencari akal dan merenung sejenak. Akhirnya Kancil menemukan cara untuk menyebrangi suangai itu.

Dengan sekuat tenaga ia ia mendorong-dorong pohon pisang hingga satu persatu roboh. Kancil berpikir bahwa pohon pisang itu akan menolongnya. Kancil berpikir akan membuat rakit untuk menyebrangi sungai.

Ia rakit pohon pisang itu dengan rapi. Kancil meniru apa yang pernah dilakukan oleh anak-anak Petani. Dengan sekuat tenaga, akhirnya rakit itu jadi.

‘’Aduhhh… berat sekali.’’ Kancil mengeluh. Tenaganya sudah habis dan ia kelaparan. ‘’ Aku harus bisa mendapatkan makanan di seberang sana.’’

Tanpa ia sadari si Kancil. Seekor buaya besar yang memperhatikan dari belakang dan …. Hup ! dalam sekejap kaki Kancil di terkam sang Buaya.

‘’Aduuh Pak Buaya ! Tunggu sebentar..! kancil ketakutan.

‘’Tunggu apalagi Cil ? Perutku sangat lapar.’’

‘’Jangan khawatir Pak Buaya, aku tidak bisa melawanmu. Tapi saat ini aku pun sedang kelaparan. Jadi biarkan aku mencari makanan dulu.’’

Buaya langsung melepaskan gigitannya pada kaki Kancil.

‘’Jadi apa mau mu Cil?’’

‘’Temanmu banyakkan Pak Buaya?’’

‘’Yaa. Betul, banyak sekali Cil.”

‘’Tolong panggilkan mereka kesini !’’

Buaya segera memanggil teman-temannya. Dalam waktu singkat temen-temanya sudah berada di permukaan air.

‘’Salah satu dari kalian tolong antarkan aku ke seberang sana untuk mencari makanan agar tubuhku menjadi gendut dan cukup untuk di makan kalian semua.

‘’Cil.. kau jangan coba-coba menipu kami.’’

‘’Aku tidak berani menipu mu Pak Buaya.’’

‘’Baik. Aku akan mengantarkan mu ke seberang sungai. Disana banyak makanan.’’

Hati Kancil sangat senang. Sementara Pak Buaya punya rencana lain. Kancil segera naik ke punggung Pak Buaya untuk menyebrang.

‘’Waaah. Asik… ‘’Kata Kancil dengan sangat gembira.

Nikmatilah kegembiraan mu Cil. Karena sebentar lagi kau akan masuk ke dalam perutku.’’ Kata Pak Buaya dalam hati.

‘’ Ingat Cil jangan coba-coba menipuku.’’ Kata Pak Buaya sambil menunggu di pinggir sungai. Sementara Kancil mencari buah-buahan untuk di makan sepuasnya.

Tak lama kemudian Kancil muncul lagi dengan perut yang lebih gendut. Kancil sudah merasa kenyang .

‘’Pak Buaya berapa banyak temanmu?’’

‘’Sangat banyak Cil.’’

‘’Seberapa banyak? Hitung dong.’’

‘’Belum pernah aku hitung Cil.’’

‘’Terus bagaimana cara membagi dagingku nanti? Kau sendiri tidak tau berapa banyak temanmu.

‘’Baiklah. Aku akan menghitung jumlah kalian. Sekarang berbarislah dengan rapi hingga sebrang sana.’’

Para buaya berjajar rapi. Kancil melompat dari punggung buaya ke punggung yang lain sambil menghitung dengan keras hingga di seberang sungai. Begitu sampai di seberang sungai Kancil melambaikan tangannya.

‘’Pak Buaya. Terima Kasih sudah mengantarku ke sini dan selamat tinggal !’’

‘’Loh? Cil kau mau kemana ? Aku belum memakanmu !’’

‘’Hahaa.. Mau memakanku? Enak saja!’’ kata Kancil sambil berteriak.

‘’Dasar Kancil penipu. Kau tidak dapat dipercaya.’’ Kata Buaya yang sangat marah.

‘’Aku menipu hanya untuk menyelamatkan diri.’’

‘’Kancil kembaaalii… !’’ teriak Para Buaya.

Kancil terus berlari sangat kencang tanpa menghiraukan Para Buaya.

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Fabel Kancil Menipu Buaya adalah gunakan akal pikiranmu walaupun disaat paling sulit sekalipun, karena masalah sesulit apapun pasti ada jalan keluarnya jika kita berusaha.

Kisah Rusa Muda dan Serigala

Pada suatu hari kawanan rusa terlihat merumput di padang yang luas dan subur, padang itu terdapat aliran sungai yang airnya segar dan tidak pernah habis walaupun musim kemarau telah tiba. Beberapa hewan pemakan tumbuhan lainnya seperti kerbau, zebra, gajah, serta hewan lainnya berkumpul di padang rumput yang subur tersebut.

Kawanan rusa selalu mengamati tempat mereka dari ancaman kawanan serigala, setiap kali kawanan rusa merumput maka salah satu dari kawanan rusa tersebut mengamati keadaan sekitar. Rusa penjaga akan terus memperhatikan setiap suara dan gerak gerik yang mencurigakan, dan rusa selalu bersiap untuk lari ketika kawanan serigala datang mengancam.

Pada suatu hari dikala mentari bersinar, gumpalan awan tipis menghiasi langit biru. Dan sejuknya tiupan angin membuat suasana di padang rumput itu sangat menyenangkan, kawanan rusa dan binatang lain sedang memakan rumput dengan tenang, lalu salah satu rusa muda mendapatkan tugas pertamanya mengawasi keadaan padang rumput tersebut. Rusa ini memiliki badan yang besar, lincah serta kuat, tapi dia hanya memiliki satu tanduk, karena satu tanduknya patah ketika dia diserang seekor serigala. Ketika itu tanduknya membentur batu hingga patah, namun hal tersebut merupakan kecerobohannya sendiri karena ketika tanda bahaya datang dari rusa yang lain, dia menghiraukannya dan terus makan rumput dengan rakusnya hingga dia lupa dengan bahaya yang mengancam.

Ketika rusa muda itu mulai melaksanakan tugasnya dia menegakkan badannya, melihat keadaan sekelilingnya. Matanya yang tajam mampu melihat suatu yang jauh bersembunyi pada semak semak, telinganya mampu mendengar suara yang terdengar asing dari jarak yang cukup jauh, dan kakinya yang kuat dan lincah mampu melepaskan diri dari para serigala, awalnya rusa itu patuh pada tugasnya, namun rusa itu mulai berpikir bahwa hal ini adalah kegiatan yang sangat membosankan, menjaga kawanan rusa dari kawanan serigala, dan berpikir jika dia terus menjaga kawanan dari bahaya, kapan dia akan mulai makan rumput yang hijau ini, padahal rusa itu mulai merasakan lapar.

Rusa itu berpikir untuk segera menyantap rumput hijau yang sangat menggiurkan, namun dia memiliki tugas yang tidak bisa dia tinggalkan, akhirnya rasa lapar membuatnya lupa akan tugasnya. Rusa muda itu segera meninggalkan tugasnya dan makan dengan rakus, dia tidak henti-hentinya memakan rumput itu, rasa lapar membuatmya lupa diri dengan tugasnya yang sangat penting.

Setelah beberapa saat rusa muda meninggalkan tugasnya, terdengar suara gemuruh para kawanan rusa dan para binatang lainnya berlarian dengan sangat kencang, mereka mengeluarkan suara-suara peringatan bahwa kawanan serigala menyerang. saat itu pula rusa muda yang sedang menikmati rumput hijau itu kaget dan merasa ketakutan, matanya melihat kesana kemari untuk melihat dari mana datangnya kawanan serigala itu, namun dia terlambat menyadari ternyata kawanan serigala itu tepat berada dibelakangnya dan bersiap untuk segera menerkam dirinya, segera rusa muda itu meloncat dan berlari untuk meloloskan diri dari kawanan serigala, namun kawanan serigala telah mengepungnya hingga rusa muda itu tidak mampu lagi meloloskan diri dari kawanan serigala tersebut.

Dia sangat menyesal dengan perbuatannya, meninggalkan tugas mengawasi keadaan padang rumput hingga akhirnya dia mendapatkan akibat yang begitu buruk untuknya. Di saat itu rusa muda itu berpikir bahwa jika dia mendapatkan tugas apapun akan dia lakukan dengan sepenuh hati, dan selalu patuh pada tugas tersebut, tapi kesalahan itu tidak ada dapat diperbaiki karena saat itu pula para serigala telah menerkamnya.

Pesan moral dari Kumpulan Cerita Dongeng Nusantara Rusa Muda dan Serigala adalah kepentingan bersama harus diutamakan dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Pekerjaan dan tanggung jawab yang dibebankan kepada kita, harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, karena jika tidak dilakukan dengan serius hasilnya tidak akan maksimal dan akan ada penyesalan dikemudian hari

Belalang Sombong dan Keluarga Semut

Siang hari yang terik di padang rumput yang sangat hijau dan ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan bunga yang mekar serta beraneka ragam bentuknya, padang itu sangat indah dipandang mata. Di antara hijaunya rerumputan keluarga semut yang terdiri dari semut-semut pekerja dan semut-semut tentara sedang bergerak berjalan, mereka berbaris dan sangat terlihat rapih, diantara semut-semut itu ada lima semut sedang mengangkat sebuah buah yang ukurannya sangat besar dan berat, mereka membawanya untuk dijadikan makanan.

Di atas semut-semut itu bertengger se ekor belalang besar, belalang itu memiliki kaki belakang yang besar dan kuat dalam sekali melompat dia bisa menggapai tempat yang lain. Belalang besar itu sedang memperhatikan semut-semut berjalan rapih, lalu dia melihat buah berwarna merah besar bergerak lambat mengikuti jalan semut yang rapih itu, belalang itu mulai mendekati buah berjalan itu, seketika dia kaget ternyata buah itu diangkat oleh beberapa semut pekerja yang ukurannya sangat kecil.

“Wahai para semut, kenapa kau mampu mengangkat benda sebesar dan berat seperti itu, padahal kalian adalah makluk kecil dan tidak memiliki kekuatan seperti aku?” Tanya belalang kepada para semut sambil heran.

“Tuan belalang, kami para semut diciptakan untuk mampu mengangkat beban yang beratnya dua kali lipat dari berat tubuh kami, dan kami mampu bekerja sama dengan semut lainnya, karena itu kami mampu membawa sesuatu seperti buah ini”. Jawab salah satu prajurit semut dengan nada tegas.

Belalang itu mulai berangan-angan bahwa dia mampu melakukan seperti para semut itu karena dia merasa bahwa dia lebih hebat dari para semut itu, dia memiliki tubuh yang besar dan kuat.

“Semut prajurit kau tahu aku ini memiliki tubuh kuat dan besar, lebih kuat dari para semut sekalipun, aku mampu mengangkat sesuatu yang lebih berat dari badanku ini seperti mengangkat seekor gajah, karena aku lebih hebat dari para semut”. Celoteh sang belalang kepada semut prajurit dengan sombong.

“Tuan belalang kau sombong sekali, kau tahu gajah itu sangat besar dan kuat, bahkan tidak ada satu hewan besar seperti badak pun mampu mengangkatnya, apa lagi kau tuan belalang”. tanggap prajurit semut kepada sang belalang.

“Kau tidak percaya kepadaku, akan aku buktikan bahwa aku mampu melakukannya dan kau akan merasa iri kepadaku”. Belalang berkata kepada prajurit semut.

“Tuan belalang aku tidak tertarik dengan apa yang kau akan lakukan, aku disini hanya bertugas untuk menjaga para semut bekerja dengan baik dan melawan ancaman kepada para semut, aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk menonton pertunjukan mu, lagi pula aku rasa kau tidak perlu melakukannya karena itu berbahaya untukmu”. Saran semut kepada sang belalang.

Namun belalang itu tetap bersikeras bahwa dia mampu mengangkat seekor gajah, tidak jauh dari tempat itu ada segerombolan gajah sedang memakan rumput mereka terlihat sangat tenang, sambil berteriak dia berkata kepada para semut “Hai perhatikan aku para semut akan aku buktikan kehebatanku”.

Para semut pun berhenti sejenak mereka menaiki rumput dan berdiri di ujungnya, mereka melihat belalang itu terbang mendekati salah satu gajah besar. belum sampai belalang itu mendekati seekor gajah besar, tubuhnya terpental sangat jauh kembali ketempat para semut bekerja, salah satu kaki besarnya patah dan tubuhnya terluka, ternyata salah satu dari belalai gajah menghempas belalang itu tanpa disengaja.

Sang belalang pun kini tidak mampu bergerak dia menyesal telah melakukan hal itu. Kemudian prajurit semut itu berkata kepada sang belalang “Tuan belalang, sekarang tontonan apa lagi yang akan kau tunjukan kepada kami, sekarang kau akan sadar dengan kemampuanmu, apapu yang tuan belalang lakukan tadi adalah perbuatan ceroboh”.

Kemudian para semut itu kembali ke tempat mereka masing-masing, namun salah satu prajurit semut memerintahkan kepada beberapa semut untuk segera memindahkan sang belalang dan mengobatinya.

Pesan moral dari Cerita Fabel Nusantara Belalang Sombong dan Keluarga Semut adalah Kesombongan akan membuatmu lupa diri sehingga pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Gajah Yang Baik Hati

Tindakkan Kancil masuk kedalam itu merupakan tindakan yang sangat ceroboh. Ia tidak berpikir bagaimana caranya ia naik ke atas bila sudah berada di dalam kolam tersebut. Beberapa kali Kancil mencoba untuk memanjat tetapi ia tidak bisa sampai ke atas.

‘’Tolong.’’ Toloooonggggg..!’’

Si Kancil tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berteriak meminta tolong. Teriakan si Kancil ternyata terdengar oleh sang Gajah yang kebetulan sedang berjalan melewati tempat itu. ‘’Hai, siapa yang ada di kolam itu?’’

“Aku… tolong aku..! jawab si Kancil.

“Siapa kau?’’ Tanya Gajah.

‘’Aku.. si Kancil sahabatmu.’’

‘’Kenapa kamu bisa di dalam kolam ini? Dan berteriak meminta tolong.’’

Kancil terdiam sesaat mencari akal agar Gajah mau menolongnya.

‘’Tolong aku mengangkat ikan ini.’’

“Yang benar kau mendapat ikan?’’

‘’Bener..benar ! aku mendapatkan ikan yang sangat besar.’’

‘’Tapi bagaimana caranya aku turun kebawah.’’

‘’Sebaiknya kamu langsung turun saja kebawah. Sebab jika tidak cepat-cepat ikan ini bisa lepas.!’’

Gajah berpikir sejenak. Bisa saja ia turun ke bawah dengan mudah tetapi bagaimana jika naiknya nanti.

‘’Cil. Mana ikan yang kau dapatkan ?’’

‘’Ada di sepasang kakiku.’’ Kata Kancil.

‘’Kalau aku menolongmu. Lalu bagaimana caranya aku naik dari kolam ini.?’’

Kini Kancil terdiam. Ia tidak menyangka gajah dapat berpikir sejauh itu. Tidak seperti dirinya, karena kehausan langsung terjun kedalam kolam. Tanpa berpikir akibatbya.

‘’Kau mau memanfaatkanku ya Cil?’’ kau akan menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?’’ Tanya Gajah.

Kancil hanya terdiam.

‘’Sekali-kali kamu harus diberi pelajaran.’’ kata Gajah sambil meninggalkan tempat itu.

‘’Waduh.. Pak Gajah. Aku mohon tolonggggg….!’’

Gajah tidak mendengarkan teriakan Kancil. Kancil mulai putus asa. Semakin lama berada di tempat itu Kancil mulai merasa kedinginan.

‘’Toolongg.. tolongggg.’’

Hingga menjelang sore tidak ada seekor binatang yang mendengar teriakannya.

‘’Aduh gawat! Aku benar-benar akan mati kaku di tempat ini.’’ Kancil mulai membayangkan akhir hidupnya ditempat ini.

Lalu Kancil berteriak dengan keras.’’ Wahai langit dan bumi! Dan seluruh binatang yang berasa di hutan. Aku bersumpah tidak akan menipu untuk kepentinganku dan keselamatanku sendiri, kecuali……!

Ketika Kancil mengucapkan kata kecuali, Kancil sengaja mengecilkan suaranya sehingga hampir tidak terdengar lagi. Tak di sangka ternyata Gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Ternyata Gajah tidak benar-benar meninggalkan Kancil sendirian dan sengaja menyembunyikan dirinya. Ia penasaran mendengar ucapan kancil yang terakhir.

“Kecuali apa?’’ tanya Gajah penasaran.

Kancil terkejut mendengar suara Gajah.

‘’Pak Gajah? Kau kembali lagi?’’

‘’Jawab pertanyaanku Cil. Kecuali apa?’’

‘’Hmm. Kecuali terpaksa untuk menyelamatkan diri. Karena aku hewan kecil yang serimg terancam oleh Harimau, Singa, Srigala, dan binatang lainnya yang jahat.’’

‘’Oh begitu..?’’ sahut Pak Gajah. ‘’Sekarang apakah kamu sudah sadar? Dan akan berjanji tidak akan menipu, jahil, iseng dan perbuatan yang merugikan binatang lain?’’

‘’Benar Pak Gajah.’’

‘’Betul?’’

Betul Pak Gajah, saya benar-benar berjanji.’’

‘’Baiklah sekarang aku akan menolonhmu Cil.’’ Kata Gajah.

Gajah menjulurkan belalainya yang sangat panjang untuk menangkap Kancil dan mengangkatnya ke atas. Begitu sampai di atas Kancil berkata.

‘’Terima kasih Pak Gajah! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini.’’

Sejak itu Kancil menjadi binatang yang sangat baik. Ia tidak lagi berbuat iseng seperti yang pernah ia lakukan pada beruang dan binatang-binatang yang lainya.

Pesan Moral dari Dongeng Cerita Fabel Anak PAUD Gajah Yang Baik Hati adalah janganlah perbuatan baik orang lain kita balas dengan kejahatan.

Ular Tanah dan Bajing

Disebuah pohon yang rindang dan melimpah dengan buahnya terdapat seekor Bajing yang sedang santai dengan makanan ditangannya dia mengunyah makanan yang lezat, makanan itu adalah buah apel yang telah matang dan berwarna merah kala itu di siang hari yang sangat terik namun Bajing itu terlihat sangat senang sekali. Tidak lama saat Bajing mengunyah makanannya datang lah seekor ular tanah yang menaiki pohon itu dengan cara menaiki pohon kecil di sebelah pohon rindang itu ular itu merayap sambil mendesis mendekati Bajing yang sedang asik memakan buah segar.

Bajing itu mencium kehadiran sang ular lalu menoleh ke arah sang ular Bajing itu memperhatikan gerak gerik sang ular Bajing itu merasa aneh dengan ular itu dan dia bertanya kepada sang ular “Apa yang kau sedang lakukan?” Tanya sang Bajing “Ah aku hanya ingin mendekatimu saja, kau tahu sebuah kabar yang sangat membahagiakan kita!”. jawan sang ular “Kabar apa itu, saat ini aku belum mendengar kabar apapun”. Tanya sang Bajing “Kau tahu kami para ular telah membuat sebuah perjanjian dengan para Bajing untuk berdamai begitu juga dengan hewan-hewan lainnya, kemarilah aku sangat ingin mendekapmu aku ingin tahu bagaimana rasanya mendekapmu!”. Jawab sang ular sambil meminta. Bajing itu merasa heran dan takut terhadap ular itu.

Kemudian Bajing itu melompat dari dahan kedahan Bajing itu mencari tempat yang paling tinggi dan ranting yang paling kecil, Bajing itu menoleh ke atas dan wajahnya membuat bingung sang ular lalu ular itu bertanya “Apa yang kau lihat wahai Bajing?”.

Tanya ular sambil merayap mendekati sang Bajing dengan lambat “Ah aku hanya melihat saudaraku disana.” Jawab Bajing dengan tenang. “Kemarilah wahai ular akan aku perkenalkan kepada saudaraku yang lain!”. Pinta sang Bajing. Ular itu sangat senang sekali dia berpikir dia akan mendapatkan 2 Bajing sekaligus, gerakannya yang lambat kini semakin cepat dan terlihat bersemangat akhirnya dia mencapai puncak pohon bersama sang Bajing. Namun Bajing itu segera melompat ke pohon yang lain “Kenapa kau melompat ke pohon itu dan bersembunyi di dahan yang bersar, bukannya kau akan mengenalkan aku pada saudaramu?” Tanya sang ular. “Ya memang aku akan memperkenalkan mu kepada saudaraku sepertinya dia sangat menyukaimu dan dia ingin sekali memelukmu”. Jawab sang Bajing. “Benarkah? kalo begitu dimana saudaramu itu aku sangat ingin bertemu dengannya”. Pinta sang ular, lalu sang Bajing melihat ke atas langit dan dia tersenyum “Cobalah tengok ke atas langit disana ada saudaraku sedang terbang menuju kemari.” Pinta sang Bajing.

Lalu ketika sang ular melihat ke atas langit dia kaget dan langsung turun ke dahan yang lebih rendah merasa sangat ketakutan “Kenapa kau lari dan ketakutan bukannya tadi kau bilang semua hewan telah berdamai, burung elang yang sedang terbang itu adalah hewan kenapa kau takut kepada burung elang?” Tanya sang Bajing. “Burung elang belum mendengar kabarnya jadi lebih baik aku pergi saja dari sini” Jawab sang ular merasa ketakutan.

Akhirnya sang Bajing berhasil memperdayai sang ular yang licik dan dia pergi meninggalkan pohon itu mencari makanan yang lain.

Pesan Moral dari cerita fabel terbaru ular tanah dan bajing adalah kita harus selalu dan berhati-hati dalam bertindak. Selain itu jangan mudah percaya dengan orang yang baru kita kenal.

Monyet, Tupai dan Serigala

Ditepian sungai mengalir sebuah air terjun yang jaraknya sangat tinggi sungai yang terlihat bening dan percikan air terjun membuat udara menjadi sejuk dan sedikit dingin. Air terjun itu tepat berada di tengah-tengah hutan lebat. Setiap pagi di dekat air terjun itu sering terdengar kicauan burung-burung bernyanyi juga suara hewan-hewan lain.

Siang hari saat matahari berada tepat di atas kepala membuat beberapa hewan ingin menghilangkan dahaganya namun tempat itu sering menjadi tempat para pemburu untuk menangkap beberapa hewan, mereka sengaja membuat perangkap untuk menjerat hewan buruan seperti burung, anjing hutan, harimau. Hewan-hewan yang telah ditangkap dijadikan binatang peliharaan kecuali harimau tidak dijadikan peliharaan tetapi kulit harimau itu dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Siang itu di dekat pohon yang rimbun terlihat seekor monyet memanjat meloncat kesana-kemari sambil bersuara dia terlihat amat senang dan riang. Dari kejauhan monyet itu melihat seekor serigala berwarna abu-abu muncul dari bayangan hutan ke arah sungai untuk minum. Serigala itu bertubuh besar dan berbulu lebat. Serigala itu berjalan mendekati sungai dia berjalan dengan penuh hati-hati. Belum sempat sampai ke tepian sungai serigala itu tidak sengaja menginjak sebuah kayu, tiba-tiba terdengar suara tali yang tertarik ternyata serigala itu menginjak sebuah kayu yang memicu perangkap. Perangkap itu terbuat dari tali yang dianyam dengan rapi dan kuat.

Serigala itu terperangkap dia mencoba untuk melepaskan diri dari perangkap itu namun sayang tali perangkap itu sangat kuat karena perangkap itu dibuat untuk seekor harimau. Serigala itu terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya dia merasa lelah dan tak bisa berbuat apapun kini serigala itu hanya bersuara untuk meminta tolong. Dari kejauhan monyet itu melihat kejadian yang menimpa serigala.

Lalu monyet yang berada di sisi lain sungai mulai turun dari pohon karena kasihan monyet itu mencoba menolong sang serigala yang terperangkap kini dia menyebarangi sungai dengan mencari tempat yang dangkal dan terdapat banyak bebatuan. Sampailah monyet itu di dekat serigala, monyet itu melihat perangkap itu ditalikan kepada sebuah batang pohon yang besar. Segera dia menaiki pohon itu dengan cepat setelah sampai di batang pohon itu dia mencoba menarik-narik tali yang menjerat sergiala itu namun usahanya sia-sia dia tidak bisa melepaskan ikatan pada batang pohon itu.

Sang serigala hanya meminta tolong kepada sang monyet karena usaha yang dia lakukan tidak bisa membuat diri lepas dari perangkap. Namun sang monyet pun bingung bagaimana cara melepaskan ikatan perangkap itu, tidak lama kemudian dia mendengar suara beberapa tupai dari arah dekat tanpa basa-basi menyet itu mendekati para tupai dan dia meminta bantuan kepada para tupai untuk melepaskan serigala, para tupai itupun mau menolongnya. Tapi mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. Sang monyet hanya meminta mereka untuk mengigit tali-tali yang terikat kepada batang pohon karena tupai memiliki gigi yang kuat bahkan kelapa yang kulitnya tebal bisa berlubang.

Tidak lama kemudian monyet dan para tupai mendatangi perangkap itu tupai pun langsung menggigit-gigit tali yang mengikat sang serigala meskipun waktunya sangat lama namun tali itu satu persatu mulai putus dan akhirnya serigala itu terlepas dari jeratan perangkap. Dia berterimakasih kepada monyet dan para tupai yang membantunya.

Pesan moral dari Cerita Anak-Anak Pendek : Monyet, Tupai dan Serigala adalah dengan bekerja sama pekerjaan sulit akan menjadi mudah.

Kura-kura dan Monyet Pembohong

Seekor kura-kura berjalan sangat lamban ke arah sebuah sungai yang air nya cukup tenang, kura-kura itu keluar dari sungai semalam ketika hujan besar turun sehingga arus sungai menjadi cukup deras dan sungai itupun menjadi sangat kotor. Ketika sang kura-kura akan kembali ke sungai dia mendengar sesuatu dari kejauhan rasa penasaran membuatnya bergerak melihat apa yang sedang terjadi ditempat keramaian itu.

Seluruh hewan berdatangan ke arah keramaian itu. Ketika seekor ayam jantan melewati sang kura-kura, sang kura-kura bertanya : “Apa sesuatu sedang terjadi disana wahai ayam?” sambil tergesa-gesa ayam itu menjawab :”Aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar kabar bahwa seekor monyet tua sedang mengabarkan sesuatu dan kabar itu sangat penting bagi hewan-hewan disini”.

Mendengar hal itu dari seekor ayam sang kura-kura kini bergegas mencapai pusat keramaian itu namun tetap saja jalannya sangat lambat dia tidak bisa berlari seperti hewan lainnya, beberapa menit kemudian berjalan kini sang kura-kura itu melihat hampir semua hewan berkumpul disana kelinci, rubah, tikus, musang, burung, kadal, angsa, anjing, serigala dan disana terlihat seekor monyet berdiri dia atas pohon dan terlihat sangat jelas sekali. Monyet itu berbicara sambil mengangkat sesuatu seperti botol kepada semua hewan yang sedang berkumpul di tempat itu namun suara itu samar-samar terdengar oleh sang kura-kura, akhirnya kura-kura sampai di tempat keramaian itu tempat itu penuh sangat sesak dan sulit untuk melewati hewan yang sedang berdesakan.

Sang kura-kura kini mampu mendengar apa yang sedang digembor-bemborkan oleh monyet tua di atas dahan “Selama ini aku belajar menjadi seorang yang ahli dalam mengobati berbagai macam penyakit, dan kini selama penelitian ku aku telah menemukan obat yang sangat ampuh, obat ini lebih hebat dari obat manapun karena obat ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit”. Kata sang monyet tua dengan nada yang sangat meyakinkan, para hewan yang hadir disana merasa sangat yakin dengan apa yang dikatakan monyet tua itu namun tidak bagi sang kura-kura.

Kura-kura itu kini mencoba mendekati sang monyet tua itu dengan cara menerobos masuk ke dalam keramaian, cangkangnya yang keras memberikan keberanian lebih kepada kura-kura itu meskipun kadang terinjank dia tidak merasakan sakit.

Akhirnya dengan susah payah kura-kura itu sampai tempat yang paling depan dia memperhatikan monyet tua itu dengan teliti “Tuan Monyet” kata sang kura-kura “Aku menyimak apa yang kau sampaikan kepada kami yang hadir disini tentang dirimu telah belajar mengobati dan membuat sebuah obat yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit namun aku melihat tubuhmu kurus dan terlihat kau tidak begitu sehat” kata sang kura-kura “Jika kamu mampu untuk menyehatkan badanmu itu dengan obat yang telah kamu buat barulah aku percaya akan kemampuan obat itu namun jika hal itu tidak berhasil sebaiknya kau memikirkan kembali apa yang sedang kau kerjakan itu”. tegas sang kura-kura.

Kisah Anjing dan Kuda

Disebuah lumbung padi terdapat seekor anjing dan seekor kuda sebagai binatang peliharaan seorang petani, anjing sering sekali digunakan untuk menjaga lahan pertanian dan lumbung petani dari pencuri dan hewan pengganggu. Lalu sang kuda digunakan sebagai kendaraan dan tempat membawa peralatan petani ketika pergi ke sawah maupun pulang ke sawah. Sang anjing dan sang kuda ini tinggal dalam satu kandang yang cukup besar untuk mereka berdua, kandang ini terletak tidak jauh dari rumah petani. Karena mereka sudah lama saling kenal mereka menjadi teman yang sangat baik mereka terkadang bermain bersama sedang tidak bertugas.

Suatu malam petani pergi ke luar rumah sambil membawa kayu bakar yang banyak dan petani ini dibantu oleh temannya, mereka akan membuat sebuah pembakaran seperti api unggun sambil berbincang-bincang. Api itu tidak besar seperti api unggun, apinya digunakan oleh petani untuk membakar ikan dan ubi. Setelah selesai petani dan kawannya berbincang mereka meninggalkan perapian itu, anjing dan kuda melihat dan mencium aroma sedap dari luar mereka lalu keluar kandang dan menghampiri perapian itu.

Namun si petani hanya meninggalkan kacang kastanye dan itupun karena petani lupa membawanya. Sang anjing dan sang kuda saat itu merasa lapar sekali kemudian sang kuda mempunyai ide untuk membakar kacang katsanye itu, sang kuda meminta untuk sang anjing memasukan kacang katsanye itu dengan mendorong-dorong menggunakan kakinya. Lalu sang anjingpun melakukannya dengan baik, dia mendorong-dorong kacang hingga masuk ke perapian.

Ketika semua kacang katsanye itu dimasukan kedalam perapian mereka menunggu dan menunggu sambil duduk berdampingan, lalu kedua hewan itu saling tengok dengan bingung dan sang kuda mengatakan “bagaimana cara mengeluarkan kacang katsanye itu dari perapian, aku akan sangat senang jika memiliki kaki seperti dirimu, akan aku tarik kacang katsanye itu keluar dari perapian.” sang anjing menjawab “kau ini hanya alasan saja yang kau bicarakan padaku, baiklah akan aku keluarkan seluruh kacang katsanye itu dari perapian.” lalu sang anjing mendekati perapian itu sambil mengulurkan kaki depannya ke arah perapian.

Sang anjing mengeluarkan satu persatu kacang katsanye itu dengan kaki depan yang melepuh namun ketika sang anjing mengeluarkan kacang itu satu persatu, di belakang sang kuda mengambil dan mengunyahnya dengan sangat tenang dan asik sambil berkata: ”ayo terus keluarkan kacang itu dari perapiannya.” tidak lama kemudian selesailah sang anjing mengeluarkan kacang katsanye itu, lalu dia menoleh ke belakang dan melihat sang kuda menghabiskan kacang katsanye itu.

Saat itulah sang anjing marah kepada sang kuda dan dia tidak mau lagi berurusan dengan sang kuda, karena sang kuda telah menipunya.

Pesan moral dari Kumpulan Cerita fabel Hewan Anjing Dan Kuda adalah orang yang licik dan curang lambat laun akan ditinggalkan oleh teman-temannya. Oleh karena itu hidarilah sifat curang seperti yang ditunjukan si Kuda.

Kera Licik dan Seekor Kura-kura

Suatu hari seekor kera yang rakus serta licik mencari makanan ke sebuah perkebunan manggis dia melompat dari pohon ke pohon dan sampailah ke sebuah perkebunan manggis, pohon-pohon itu telah berbuah dan sudah banyak buahnya yang matang sang kera dengan senangnya duduk di dahan pohon buah manggis sambil memakan buah manggis yang rasanya manis, ketika sedang asik-asiknya makan, sebuah batu yang ukurannya lumayan besar sebesar kepalan tangan sang kera menghantam kepala sang kera dengan sangat keras hingga sang kera merasa pusing, batu itu berkali-kali melesat kearah dirinya dan untuk menghindari batu itu sang kera melompat kesana kemari dan keluar dari perkebunan manggis itu.

Setelah dia keluar dari perkebunan itu dia melihat seorang petani melesatkan batu itu menggunakan ketapel. Kepalanya masih terasa sakit karena batu tersebut. Sambil melompat lompat terdengar dari kejauhan bahwa jika sang kera memasuki perkebunan manggis lagi bukan sebuah batu yang akan dia lesatkan tapi sebuah anak panah yang akan bersarang di badanmu.

Sang kera merinding mendengar ancaman tersebut dari seorang petani, kini sang kera berpikir di sebuah dahan pohon bagaimana caranya untuk mendapatkan makanan tanpa mendapatkan resiko yang mampu membunuhnya, dia berpikir dengan keras hingga timbullah sebuah ide dari sang kera. Sang kera langsung menuju tepian sungai, dia menyusuri sungai itu dengan perlahan sambil memanggil temannya yakni seekor kura-kura.

Tidak lama kemudian sang kura-kura keluar dari sungai lalu menghampiri sang kera “ada apa kau memanggilku ke tepian.” kata sang kura-kura “aku sangat butuh bantuanmu kura-kura yang bijaksana.” kata sang kera “bantuan seperti apa wahai kera?” Tanya sang kura-kura “aku ingin menanam sebuah pohon pepaya bersamamu dan setelah pohon itu dipenuhi buahnya yang matang kita akan memakannya bersama-sama.” jawab sang kera sangat meyakinkan.

Sang kura-kura setuju dengan usulan sang kera untuk menanam sebuah pohon pepaya lalu merekapun menanam pohon pepaya itu di sebuah tempat terbuka yang tidak jauh tempatnya dari sungai, setelah menanam beberapa pohon pepaya sang kura-kura kembali ke sungai dan sang kera kembali memanjat pohon. Setelah beberapa bulan kemudian sang kura-kura keluar dari sungai dan mencari sang kera, mereka berdua bertemu di tempat mereka menanam pohon pepaya beberapa pohon pepaya telah berbuah dan buahnya sudah matang tanpa banyak basa-basi sang kera memanjat pohon pepaya itu lau memakannya di atas pohon, sang kura-kura berkata “aku menagih janji kita.” namun sang kera menjawabnya “jika kau bisa memanjat panjatlah dan jangan menyuruhku untuk memberimu makanan”. Sang kura-kura kecewa dengan sikap sang kera kepadanya. Sang kura-kura pergi meninggalkan sang kera dan kembali menyelam ke dalam sungai.

Di atas pohon sang kera memakan pepaya itu dengan rakusnya hingga tubuhnya kembung karena terlalu banyak memakan pepaya hingga akhirnya dia jatuh karena tidak mampu menahan badannya yang berat dan tubuhnya yang sakit karena terlalu banyak makan.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Fabel Kera Licik dan Seekor Kura – kura adalah sifat licik dan serakah merupakan sifat yang buruk. Kelak dikemudian hari kedua sifat ini akan mencelakakan orang yang memiliki sifat tersebut.

Demikianlah kumpulan cerita fabel dan cerita dongeng anak yang bisa dibagikan kali ini. Semoga bermanfaat dan menjari bacaan menarik. Terima kasih!